Upaya Peningkatan Pemahaman Mahasiswa Semester I Program Studi Pendidikan Khusus tentang Hambatan Belajar Anak Berkebutuhan Khusus melalui Simulation Based Learning

  • Mohammad Anwar Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta
Keywords: Simulation Based Learning, Orthopedagogik Umum, Anak Berkebutuhan Khusus

Abstract

Pembelajaran secara umum dilakukan melalui metode ceramah dengan variasi pemberian video pembelajaran dan foto-foto pendukung. Namun hal tersebut belum cukup memberikan konsep yang nyata bagi mahasiswa semester I Program Studi Pendidikan Khusus tentang kondisi yang dirasakan/dialami anak berkebutuhan khusus, hambatan belajar, masalah emosi, perilaku, dan sosial yang dialami. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan, ditemukan bahwa sejumlah 63,2% (48 dari 76 mahasiswa) sudah mengetahui tentang anak berkebutuhan khusus. Namun dari jumlah tersebut, diketahui bahwa sejumlah 77,1% (37 dari 48 mahasiswa) belum pernah berinteraksi langsung dengan anak berkebutuhan khusus. Pengetahuan terhadap anak berkebutuhan khusus masih sebatas dari informasi orang tua/saudara yang bekerja di bidang pendidikan khusus tetapi belum pernah bertemu langsung dengan anak berkebutuhan khusus dan/atau melalui membaca buku. Sedangkan, sejumlah 22,9% (11 mahasiswa) sudah pernah berinteraksi langsung dengan anak berkebutuhan khusus. Pengalaman tersebut diperoleh karena memiliki tetangga/saudara yang berkebutuhan khusus. Selain itu, ada juga yang karena pernah ke SLB bersama orang tua yang merupakan guru SLB. Tujuan simulation based learning pada mata kuliah Orthopedagogik Umum adalah untuk memberikan pengalaman tentang hambatan yang dihadapi, emosi, dan perilaku masing-masing jenis anak berkebutuhan khusus. Sehingga mahasiswa dapat memiliki pengalaman dan menemukan solusi/ide-ide dalam menerapkan pendekatan belajar atau media pembelajaran yang dapat meminimalisir dampak ketunaan. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara/testimoni mahasiswa, dan studi dokumentasi terkait pemahamanan profil anak berkebutuhan khusus setelah mengikuti perkuliahan dengan simulation based learning. Selanjutnya, diperoleh hasil penelitian bahwa sejumlah 97,4% (74 dari 76 mahasiswa) dapat memahami konsep dasar dan kebutuhan belajar anak-anak berkebutuhan khusus. Melalui tahapan simulation based learning, mahasiswa juga menemukan bahwa meskipun anak memliki jenis kebutuhan khusus yang sama, tetapi karakteristik, kebutuhan belajar, dan program pengembangan potensi anak berbeda. Sedangkan 2,6% (2 mahasiswa) masih belum memahami dengan utuh terkait konsep anak berkebutuhan khusus. Meskipun sudah berpartisipasi selama proses simulasi, kedua mahasiswa tersebut masih kesulitan dalam memahami anak berkebutuhan khusus. Disertai dengan semakin rendahnya rasa percaya diri sebagai dampak dari ketidakyakinan akan kemampuan untuk dapat mendidik anak berkebutuhan khusus.

Published
2019-01-16
Section
Articles