MAKNA SIMBOLIK KIRAB RITUAL 1 SURODI DESA MENANG KECAMATAN PAGU KABUPATEN KEDIRI

  • Intan Juliati Universitas Negeri Malang
  • I Nyoman Ruja Universitas Negeri Malang
  • Bayu Kurniawan Universitas Negeri Malang
Keywords: Makna Simbolik, Tradisi, Kirab Ritual 1 Suro

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mendeskripsikan Sejarah Kirab Ritual 1 Suro di Desa Menang, 2) Mendeskripsikan proses pelaksanaan Kegiatan Kirab Ritual 1 Suro di Desa Menang, 3) Menganalisis karakteristik pelaku Kirab Ritual 1 Suro di Desa Menang, 4) Menganalisis makna simbolik Kirab Ritual 1 Suro di Desa Menang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan model analisis interaktif dari Miles dan Huberman. Kirab Ritual 1 Surodiadakan pertama kali pada tahun 1976 oleh Yayasan Hondodento Yogyakarta. Prosesi pelaksanaan Kirab Ritual 1 Surodibagi menjadi tiga tahapan yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penutup. Pelaku kirab yang ingin mengikuti pelaksanaannya tidak diberi batasan usia, daerah asal, pekerjaan, dan agama. Makna simbolik terlihat dari beberapa aspek yaitu perlengkapan, tempat, dan prosesi.

References

Arganata, T. R. (2017). Kajian Makna Simbolik Budaya dalam Kirab Budaya Malam 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta. Skripsi Program Studi Ilmu Komunikasi. Fakultas Komunikasi dan Informatika. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Arikunto, S. (2017). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Bandung: Putaka Setia.
Aulia, R. M. (2018). Makna Simbolis Tradisi Upacara Larung Sesaji (Petik Laut) di Pantai Sendang Biru Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang Sebagai Kajian Folklor. Sripsi.
Badan Pusat Statistika. (2019). Statistik Kebudayaan 2019. Diambil kembali dari Statistik Kebudayaan 2019.
Christiana, R. (2008). Tradisi Suroan di Desa Bedono Kluwung Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo. Skripsi. Retrieved from http://digilib.uinsuka.ac.id/
Endraswara, Suwardi. 2006. Mistik Kejawen (Sinkretisme, Simbolisme, dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa). Yogyakarta: Narasi.
Endraswara, S. (2015). Agama Jawa. Yogyakarta: Lembu Jawa.
Gardjito, M., & Erwin, L. (2010). Serba Serbi Tumpeng (Tumpeng dalam Kehidupan Masyarakat Jawa). Jakarta: Gramedia.
Hanif, M., & Zulianti, Z. (2012). Sumbolisme Grebeg Suro di Kabupaten Ponorogo. AGASTYA, 2(1), 36-51. Retrieved from http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/JA/article/view/766/699
Herusatoto, B. (2003). Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia.
Hondodento, Y. (1989). In Buku Petunjuk Pelaksanaan Upacara Ziarah 1 Suro di Pusat Wilayah Petilasan Sang Prabu Sri Adji Djojobojo Desa Menang, Pagu, Kediri. Yogyakarta: Yayasan Hondodento .
Hondodento, Yayasan. 1989. Loka Muksa Sang Prabu Sri Aji Jayabaya dan Sendang Tirto Kamandanu. Yogyakarta.
Koentjaraningrat. (1985). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Bakal Pusaka.
Kusuma, C. N. (2019). Grebeg Maulud Sebagai Upacara Labuhan Gunung Merapi di Yogyakarta. Yogyakarta: Econpapers. Retrieved from https://econpapers.repec.org/paper/osfosfxxx/k6dy2.htm
Maurin, Y., Wahyuningtyas, N., & Ruja, I. N. (2020). Makna Tradisi Ruwatan Petirtaan Candi Jolotundo Sebagai Sarana Pelestarian Air. Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis, 5(1), 24-34. Retrieved from http://journal2.um.ac.id/index.php/jsph/article/view/13645/pdf
Ninik, H. (2012). Makna Simbolis Srimpi Lima pada Upacara Ruwatan di Desa Ngadirejo Poncokusumo Malang. Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya, 40(1), 55-69. Retrieved from http://journal2.um.ac.id/index.php/jbs/article/view/122/95
Nugroho, J. (2007). Proses dan Fungsi Tirakatan di Petilasan Sri Aji Jayabaya Desa Menang Kota Kediri Provinsi Jawa Timur Sebuah Kajian Folklor. Skripsi. Yogyakarta: FS Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Purwaningrum, S., & Ismail, H. (2019). Akulturasi Islam dengan Budaya Jawa: Studi Folkloris Tradisi Telonan dan Tingkeban di Kediri Jawa Timur. Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial, dan Budaya, 4(1), 31-42. doi:https://doi.org/10.25217/jf.v4i1.476
Putra, P. M. (2017). Peran dan fungsi gending “KIRAB AGUNG” dalam kirab sakramen maha kudus tuhan Yesus Ganjuran. Jurnal pendidikan seni musik, 6(7), 569-577.
Sari, D. A. (2017). Selametan Kematian di Desa Jaweng Kabupaten Boyolali. HALUAN SASTRA BUDAYA, 1(2), 147-161. Retrieved from https://jurnal.uns.ac.id/hsb/article/view/15188/15364
Sasmita, G. G. (2017). Antara Agama dan Sinkretisme”Ritual 1 Syuro di Petilasan Sri Aji Jayabaya Tradisi Lokal Masyarakat Kediri Sebagai Warisan Budaya Dunia. Seminar Nasional Sejarah Lokal: Tantangan dan Masa Depan. Malang: Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Malang.
Sauqi, A., & Hamka, M. F. (2018). Motif Ziarah Petilasan Prabu Jayabaya (menelisik makna dan tujuan masyarakat berziarah di petilasan sri aji jayabaya). Jurnal Kontemplasi, 6(2), 227-250. Retrieved from http://ejournal.iain-tulungagung.ac.id/index
Setiawan, R. B. (2015). Bentuk, Makna, dan Fungsi Sesaji Mahesa Lawung dalam Tradisi Ritual di Keraton Surakarta Hadiningra. Skripsi. Semarang: Fakultas Bahasa & Seni UNS.
Shinta, A. A. (2018). Tradhisi Suran Gunung Kawi Desa Wonosari Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang (tintingan kajian bentuk, makna, lan fungsi). Baradha, 3(3), 1-25. Retrieved from https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/baradha/article/view/24991/22898
Sholikin, M. (2010). Misteri bulan Suro: perspektif islam Jawa. Yogyakarta: Narasi.
Suwardi, E. (2006). Mistik Kejawen (Sinkretisme, Simbolisme, dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa). Yogyakarta: Narasi.
Ummatin, K. (2017). Konflik dan Integrasi Umat Beragama dalam Budaya Lokal di Loka Muksa Sri Aji Joyoboyo Desa Menang Pagu Kediri. Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat, 1(1), 37-51. Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/323872442.
Published
2021-02-07
Section
Articles